Senin, 11 Januari 2016

FUNGSIONALISME STRUKTURAL : Memahami Pemikiran Talcott Parsons

?Di masa lalu manusia adalah yang utama,
di masa depan sistem adalah yang utama.?
- Frederick W. Taylor (Kanigel 1997) -

Manusia hidup di bawah tekanan dan representasi dari fakta sosial, begitulah apa yang selalu diagung ? agungkan oleh Emile Durkheim. Sosok seorang positivis dan juga strukturalis yang kemudian pikiran ? pikirannya sangat mempengaruhi perkembangan fungsionalisme strukturalis kedepannya. Sebuah teori yang sangat terkenal pasca perang dunia II. Pada era itu fungsionalisme struktural memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu sosiologi (Ritzer, 2008;252). Entah ada imbas dari kemenangan Blok Barat yang notabene dikuasai oleh Amerika Serikat atas Blok Timur yang dapat dikatakan perwujudan Eropa. Fungsionalisme struktural pun dapat menaklukan hegemoni pemikiran ? pemikiran sosiologi kala itu, yang masih banyak berkiblat pada Eropa. Akan tetapi, dua dasawarsa terakhir, teori ini benar ? benar telah mati dan berada dalam titik nadirnya, bahkan banyak yang kemudian mengkritisi dan menyerang teori ini. Parahnya, ada pula yang beranggapan fungsionalisme struktural adalah sebagai ?aib? dalam sosiologi teoritis kontemporer (2008;252). Akan tetapi, dibalik segala kekurangan teori fungsionalis strukural, selayaknya, teori ini masih layak untuk dipelajari.

Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons
Ketika membicarakan fungsionalisme struktural tentunya tak akan pernah dapat terlepas dari pemikiran dan karya dari Talcott Parsons. Karyanya yang berjudul ?The Struture of Social Action?, adalah landasan dan sumbangsih terpentingnya dalam perkembangan fungsionalisme struktural. Dalam pemikirannya, Parsons berkonsentrasi pada strukutur masyarakat dan hubungan mereka satu sama lain ( Ritzer, 2008;226).  Lewat karyanya tersebut, dia juga ingin mempertahankan sekaligus menggantikan positivisme dan idealisme dengan teori tindakan voluntaristik (Giddens, 2008;197).  Dengan demikian, berarti dapat diambil garis besar dari pemikiran Parsons, bagaimana dia berfokus pada sebuah sistem atau tatanan yang ada dalam masyarakat serta sebuah sistem tindakan. Sebuah integrasi untuk menuju tatanan masyarakat ekuilibrium yang teratur dan berfungsi.

Secara sederhana atau mungkin dapat juga dikatakan secara bodoh ? bodohan , fungsionalisme struktural dapat diartikan sebagai suatu sistem atau struktur yang akan dan harus menjalankan fungsinya masing ? masing. Akan tetapi, hal tersebut nyatanya belumlah cukup untuk dapat memahami dan mencangkup seluruh aspek dalam fungsionalis struktural. Maka dari itu, untuk menghindari terjadi distorsi pemahaman kita mengenai fungsionalis struktural, layaknya kita perlu mengetahui bagaimana pola pemikiran Talcot Parsons dalam pandangannya mengenai struktur dan sistem.
            
Pertama, kita perlu memahami bagaimana Parsons memandang suatu sistem haruslah memiliki fungsi. Dalam pandangannya tersebut, kemudian dia membuat skema empat imperatif fungsional yang harus dimiliki sebuah sistem, sebuah skema yang kita kenal dengan AGIL. Penjabaran mengenai AGIL, yakni (Ritzer, 2008;257):

-       Adaptasi atau Adaptation
Sistem mesti mampu beradaptasi dengan lingkungannya sekaligus menyesuaikan lingkungan tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan sistem.
-       Goal atau Pencapaian tujuan
Sistem mesti mampu mendefinisikan dan meraih tujuan utamanya.
-       Integration atau integrasi
Sistem mesti dapat mengatur hubungan antarkomponen-komponen di dalamnya.
-       Latency atau laten
Sistem mesti mampu memelihara dan memperbarui motivasi individu dan tatanan kultural.
Parsons membuat skema AGIL ini agar dapat menyatu dan mendukung asumsi lainnya dari dia, terutama mengenai sistem tindakan.

Kedua, setelah memahamai bagaimana sebuah tatanan memiliki fungsi dan bergerak sesuai fungsi sebagaimana tertuang dalam konsep AGIL. Selanjutnya hal yang menjadi pokok dan juga fokus Parsons adalah Sistem Tindakan.Secara lebih terperinci, Parsons membagi sistem tindakan kedalam 4 hal, yakni (Ritzer, 2008; 259) :
-       Sistem Sosial
Kemampuan sistem untuk mengontrol komponen-komponen yang ada di dalamnya.
-       Sistem Kepribadian
Menunjukkan kemampuan sistem untuk mendefinisikan tujuannya dan memobilisasi sumber-sumber untuk mewujudkannya.
-       Sistem Kultural
sistem menyediakan norma dan nilai yang dapat memotivasi aktor untuk bertindak.
Organisme behavioral
Kemampuan bertindak sistem untuk menyesuaikan diri dengan dan mengubah lingkungan demi kepentingan sistem.

Parsons memandang, sistem tindakan ini mau tidak mau akan terpangaruh dan akan patuh terhadap AGIL. Sehingga, seperti sudah dijabarkan di atas, tindakan voluntaristik pun akan tercipta. Dimana menurut Parsons, apabila tindakan voluntaristik tercipta maka aktor akan memilih cara-cara untuk mencapai tujuan akhir dari tindakannya, akan tetapi pilihan tersebut tidak seluruhnya bebas karena dibatasi oleh struktur sosial.

Penutup
Nyatanya, fungsionalisme struktural dipuja dan kemudian dicaci. Perang ide terjadi, antara yang pro dan kontra tentunya. Pihak yang pro kemudian menelurkan sebuah gagasan baru, bentuk penyempurnaan dari fungsionalisme struktural, mereka menyebut diri mereka neofungsionalisme. Pihak yang kontra terus menyalahkan dan kemudian lebih memilih berpaling ke teori lain yang lebih komprehensif.

Fungsionalisme struktural memang mendapatkan banyak kritikan, terutama persoalan teori ini tidak dapat memanage konflik dengan baik, bahkan cenderung menolaknya, karena fungsionalisme strukturalis lebih mengedepankan harmonisasi dari masyarakat. Selain itu penafikannya pada peran individu secara merdeka juga menjadi bahan yang tidak luput dari sorotan para kritikus.

Akan tetapi, dibalik segala macam bentuk kekurangan dari teori ini. Fungsionalisme struktural nyatanya terkadang baik disadari maupun tidak mesih relevan hari ini, terutama dalam konteks negara dan administrasi. Pengaruh Parsonian sangat terasa dalam dua aspek tersebut. Selain itu fungsionalisme struktural juga menjadi akar dari banyak pekembangan teori ? teori yang muncul pasca era keemasan fungsionalis struktural. Baik yang masih mendukungnya atau malah menentangnya, apa pun itu untuk dinamisasi pengetahuan tentunya sah ? sah saja.

Teori konflik adalah salah satu teori yang berkembang sebagai kontradiksi dari fungsionalis struktural. Teori tindakan - teori sistem, sosiologi makro-mikro juga sedikit banyak terpengaruh dari Parsonian baik yang kontra maupun pro. Masih banyak lagi teori ? teori atau pun tradisi intelektual yang dipengaruhi oleh fungsionalis struktural, baik secara langsung maupun tidak. Bahkan, Jurgen Habermas pun menggunakan pandangan dari Teori Sistem Parsonian untuk merefleksikan secara kritis kondisi masyarakat modern, dan kemudian membangun paradigma yang komprehensif dalam menganalisis masyarakat modern ( Habermas, dalam Giddens, 2008;196).





DAFTAR PUSTAKA
Giddens, Anthony (Ed.). Social Theory Today. Terjemahan oleh Yudi Santoso. 2008. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.


Ritzer, Goerge. 2004. Teori Sosiologi. Terjemahan oleh Nurhadi. 2008. Yogyakarta. Kreasi Wacana.




reff : http://ginanjaritsnain.blogspot.com/2013/11/fungsionalisme-struktural-memahami.html

Tags:

0 Responses to “FUNGSIONALISME STRUKTURAL : Memahami Pemikiran Talcott Parsons”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan artikel via email

© 2013 Ruang Inspirasi 2015. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks